Kok Malu Menengok Masa Morat-marit?

VIVA –  “Di zaman pra-Hindu, negeri tersebut adalah negeri yang gemah ripah loh jinawi . Nusantara ialah negeri yang sangat mampu. Sudah ada pedidikan dan pengajaran beralaskan kebudayaan sendiri. Pada saat itu negeri2 lain datang ke sini. Indonesia telah berhasil membuat monumen kebudayaan Indonesia, ” kata Prof.   Dr.   dr.   Sutaryo, Sp. A(K) dalam sambutannya pada acara Kongres V Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan Tahun 2021 yang diselenggarakan oleh Pusat Studi Pancasila (PSP) Universitas Gadjah Mada, Jumat (7/5/2021).

Prof. Sutaryo adalah dalang acara rutin ini di dalam tahun 2007. Acara dengan berlangsung selama dua hari, 7-8 Mei itu serupa menghadirkan Sri Sultan HB, Prof. Dr. Sofian Effendi – UGM, Dr. Anhar Gonggong (Lemhannas RI), Prof. Dr. Unifah Rosyidi, M. Pd (Ketua PB PGRI), dan My Esti Wijayati (Komisi X DPR RI).

Lebih tinggi Prof. Sutaryo menjelaskan kalau bangsa Indonesia bangsa yang besar yang mampu membuat peradaban dunia. Orang hadir ke sini untuk beribadah. Orang beribadah ke Borobudur, bukan ke India. Cuma karena persaudaraan yang menjadi retak, persatuan kita menjelma pecah.

Kemudian datanglah Belanda menjajah negeri kita. Dulu pendidikan dan pengajaran untuk bangsa sendiri, namun pelajaran pada zaman penjajahan merupakan untuk kepentingan penjajah pula. Ki Hadjar Dewantara, sekapur Prof. Sutaryo, telah membatalkan pendidikan kita kembali kepada ciri kebudayaan kita.

Sangat menarik barang apa yang dijelaskan oleh Prof. Sutaryo, bahwa yang menjadi prioritas utama pembangunan faktual adalah infrastruktur sosial kebiasaan, bukan infrastruktur fisik. Dengan kata lain, yang menetapkan dibangun adalah manusianya. Pendidikan karakter harus menjadi perhatian terdepan dalam membangun negara.

Sebagai negeri majemuk, di mana negeri ini dihuni oleh latar agama dan sosial budaya yang beragam, perlu alat perekat yang menyatukan seluruh unsur. Para pendiri keturunan telah merumuskan ideologi kerabat dalam wujud Pancasila. Pancasila digali dari nilai-nilai tinggi yang telah berkembang ribuan tahun, bahkan sebelum agama-agama besar masuk ke daerah ini.

Selama puluhan tarikh Pancasila telah membuktikan jadi ideologi yang bisa diterima oleh segenap bangsa. Karakter pendidikan dalam menanamkan haluan Pancasila sangat besar. Pendidikan menjadi basis pembinaan leter.