Kisah Denjaka TNI AL Merebut MV Sinar Kudus dari Perompak Somalia

VIVA   –  Masih teringat jelas diingatan seluruh rakyat Nusantara insiden pembajakan dan penyanderaan 20 Anak Buah Kapal (ABK) MV Sinar Kudus oleh para garong bersenjata Somalia. Insiden itu terjadi pada bulan Maret 2011 suram. Kapal kargo MV Sinar Suci dibajak oleh 35 bajak bahar bersenjata asal Somalia ketika berjalan di timur laut Pulau Socotra yang terletak sekitar 350 mil laut tenggara Oman, menuju Pelabuhan Rotterdam, Belanda.  

Perompak Somalia ketika itu semacam mendapatkan durian runtuh, bagaimana tak, MV Sinar Kudus saat dirompak tengah membawa delapan ribu feronikel milik PT Aneka Tambang dengan nilai lebih dari satu triliun rupiah. Maka tidak heran, para perompak Somalia itu kemudian menodong kepada pemilik kapal dan pemerintah Indonesia untuk menebus kapal barang MV Sinar Kudus sebesar 4. 5 juta dollar Amerika ataupun sekitar 40 miliar dengan kurs rupiah ketika itu.

Komandan Korps Marinir (Dankormar) Mayjen TNI Suhartono mengisahkan, ketika insiden perompakan itu terjadi dirinya baru saja dipercaya ditunjuk kembali sebagai Komandan pasukan Detasemen Jala Mangkara (Denjaka) yang kedua kalinya.  

“Pagi saya serah terima sebagai Komandan Denjaka, malamnya saya mendapat kabar bahwa ada kasus pembajakan kapal. kemudian saya langsung malam itu juga saya panggil semua perwira saya untuk membuat perencanaan cepat, ” kata Mayjen TNI (Mar) Suhartono dikutip VIVA Militer dibanding Podcast Dispen TNI AL, Sabtu, 21 Agustus 2020.

Kemudian keesokan harinya, lanjut Mayjen Suhartono, dirinya bersama Komandan Korps Marinir saat itu, Mayjen TNI (Mar) Alfian Baharudin dipanggil oleh Kepala Pekerja Angkatan Laut (KSAL) Laksamana Soeparno dan Panglima TNI saat tersebut, Laksamana Agus Suhartono.  

Menurut Mayjen Suhartono, Panglima TNI dan KSAL ketika itu baru saja bersemuka dengan Presiden RI saat tersebut, Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY).  
“Presiden SBY meminta TNI untuk mempersiapkan operasi pembebasan ABK dan MV Sinar Kudus yang disandera para perompak di Somalia, ” ujarnya.

Dia mengisahkan, Presiden SBY memberikan tiga perintah dalam operasi yang harus dilakukan TNI saat itu. Pertama, Presiden memastikan agar TNI lulus membebaskan semua ABK yang disandera oleh para perompak Somalia.  

Kedua, Presiden SBY meminta agar TNI dapat membebaskan MV Sinar Kudus agar pesawat kargo itu dapat melanjutkan perjalanannya ke negara tujuan.  

“Ketiga, bila diperlukan aktivitas militer laksanakan pendaratan ke pantai untuk menunjukkan bahwa kita tersebut punya kedaulatan, bahwa kita tak bisa diinjak-injak harga diri kita. Sehingga mau tidak mau TNI harus turun tangan, ” tambahnya.

Lebih jauh Dankormar memaparkan, persiapan yang dilakukan oleh TNI dalam mensukseskan operasi pembebasan sandera dan MV Sinar Kudus berlangsung lulus lama. Menurut Mayjen Suhartono, ancang-ancang dilakukan lebih dari satu minggu untuk mematangkan perencanaan penyerbuan, melaksanakan latihan teknik pembebasan hingga menggabungkan seluruh data intelijen terkait dengan keberadaan posisi kapal.

Operasi khusus yang diberi nama sandi Operasi Merah Putih tersebut berjalan dengan sangat rahasia ataupun silent. Pengumpulan informasi mulai dari keberadaan posisi kapal, pemerangkatan tentara elit TNI AL yang melaksanakan operasai pembebasan, hingga pemetaan camp-camp atau markas para perompak pun dilakukan secara senyap. Bahkan, tinggi Suhartono, masyarakat Indonesia pun tidak banyak mengetahui kapan TNI memberangkatkan pasukannya   ke Somalia buat melancarkan operasi pembebasan tersebut.

“Kalau saja para teroris itu mengetahui kita mengirimkan pasukan kesana, mungkin para ABK MV Sinar Kudus tidak akan terjamin itu. Sehingga, semua perencanaan berdiam pembebasan itu dilakukan betul-betul serahasia mungkin, ” paparnya.

Kendala Pembebasan MV Cahaya Kudus

Dankormar Mayjen TNI (Mar) Suhartono menyatakan, operasi penanggalan sandera 20 ABK MV Sinar Kudus bukanlah operasi yang gampang. Dia mengungkapkan, dalam proses pembebesan sandera pihaknya mendapatkan sekian penuh kendala yang dihadapi. Mulai dari medan yang tidak dikuasai, tenggat ancaman serangan yang sewaktu-waktu bisa dilancarkan oleh para pemberontak Somalia itu.

“Setelah kita mendapatkan data-data intelijen kita meninggalkan ke perairan Somalia, itu biar kita harus   mencari sebab lautan itu begitu luas, & tidak semudah yang kita khayalkan juga yaa. Karena kapal MV Sinar Kudus itu bergerak pula dia, posisi dia tidak diam. mereka dibajak oleh pembajak tersebut dan kapal itu digunakan buat membajak kapal-kapal lain, ” katanya.  

Dia menambahkan, dalam operasi tersebut pihaknya betul mengandalkan informasi yang dihimpun oleh intelijen TNI. Informasi yang diperoleh oleh intelijen TNI bahwa dalam pesisir Somalia terdapat banyak camp atau perkampungan-perkampungan perompak yang dasar diketahui sangat rawan untuk dimasuki oleh TNI maupun pihak ganjil lainnya.  

“Di El-Dhanan ada camp atau perkampungan perompak dengan kekuatan sekitar 1000 personil yang dilengkapi dengan persenjataan yang cukup bervariasi. Mereka punya senapan mesin, mereka punya senjata roket launcer itu, ada semuanya, ” tambahnya.

Melihat potensi yang cukup rawan jika dilakukan pendaratan militer, kemudian, lanjut Suhartono, TNI memutuskan untuk mencari celah asing untuk merebut kembali MV Sinar Kudus yang dijadikan kapal pati untuk merompak kapal-kapal niaga langka oleh para perompak Somalia itu.

Mereka pun membongkar-bongkar tahu kelemahan para perompak dengan masih berada di atas pesawat kargo di atas perairan Somalia tersebut dengan memperhitungkan persediaan benih bakar MV Sinar Kudus di atas perairan Laut Somalia.

Selain itu, TNI pula mempelajari potensi perlawanan dari camp-camp di sekitar pesisir El-Dhanan dengan memungkinkan melakukan serangan terhadap pasukan TNI yang terlibat dalam proses pembebasan 20 ABK dan MV Sinar Kudus itu.  

“Karena informasi intelijen yang kita peroleh itu, di kian ternyata ada delapan kapal asing yang dibajak para perompak itu. Bahkan, ada yang lebih dari setahun tidak ditebus oleh pemilik kapal. Nah, informasi intelijen kita, kalau kita bebaskan kapal tersebut, para perompak dari camp lain itu bisa datang menyerang serta menyandera kembali kapal yang sudah dibebaskan. Makanya kita betul-betul meneliti medan di sana itu, ” ungkapnya.

Ternyata benar saja, lanjut Suhartono, pantauan intelijen TNI, MV Sinar Kudus tahu merapat ke pesisir El-Dhanan semrawut kemudian kembali melakukan moving ke perairan laut lepas. Mendapatkan bahan itu, Mayjen Suhartono pun tepat bergerak cepat turun ke bahar dengan menggunakan tiga buah Sea Reader dari atas KRI Yos Sudarso-353 dan KRI Halim Perdanakusuma-355 yang menjadi pusat komando kekuatan pasukan marinir dari satuan khusus Denjaka dalam melancarkan operasi penghentian sandera dari tangan perompak Somalia.

“Ketika melakukan laku pengejaran, waktu itu saya mendarat dengan tiga sea reader, serta kebetulan ombak waktu itu benar besar. Saya pimpin sendiri ketika itu, saya di Sea Reader satu, kemudian di Sea Reader dua itu ada Pasops Marinir Letkol (Mar) Bramantyo yang saat ini menjadi Danpus Kopaska, kemudian Sea Reader tiga itu ada Kolonel Samson Sitohang, yang sekarang jadi ADC nya Presiden RI, ” kisahnya.

Aksi penyerbuan pun dikerjakan, lanjut Suhartono, dengan tantangan aliran yang besar tiga rombongan Sea Reader penyerbu merebut kembali MV Sinar Kudus dari tangan para-para perompak bersenjata Somalia.  

Tidak sampai di situ, lanjut Suhartono, setelah TNI jadi mendapatkan MV Sinar Kudus, gabungan perompak lainnya dari arah miring kembali mendatangi MV Sinar Kudus. Sehingga Suhartono dan dua Sea Reader lainnya segera melakukan siasat untuk menghadang kedatangan beberapa sekoci motor yang datang mengarah MV Sinar Kudus.  

Aksi tembak-tembakan di tengah malam dalam kondisi ombak besar pun tak dapat dihindarkan di tempat perairan Somalia. Pada akhirnya pasukan TNI dari satuan Denjaka Kompilasi Marinir berhasil melumpuhkan para pemberontak Somalia itu. Empat perompak Somalia dikabarkan tewas akibat diterjang timah panas TNI. Perahu cepat para perompak pun sempat dikuasasi pasukan Denjaka TNI.  

Dari atas kapal motor para-para perompak itu, TNI berhasil menyimpan sejumlah barang bukti diantaranya kepala unit GPS Garmin 72, mesiu peluru tajam kaliber 7. 62 mm dan 5. 56 mm, serta satu buah jaket coreng gurun.  

Alhasil, TNI berhasil merebut kembali MV Sinar Kudus berikut 20 ABK termasuk nahkoda asal Indonesia dengan sempat disandera oleh para garong Somalia itu. Lalu, MV Cahaya Kudus langsung bergerak meninggalkan perairan Somalia menuju pangkalan aju Salalah Oman dengan pengawalan KRI Yos Sudarso dan KRI Halim Perdanakusuma.  

“Jadi, metode mulai persiapan hingga pembebasan itu tidak sesederhana seperti yang kita pikirkan. Yang mana juga kekuatan dari prajurit juga harus kita jaga betul. Nah, disini lah gunanya kenapa kita melatih pasukan di situ, agar kita mampu terbiasa menghadapi ombak yang tinggi, cuaca di laut yang berubah-ubah, stamina harus kuat. Dan tugas-tugas operasi di laut tentunya kudu melalui sebuah proses yang panjang. Pembinaan yang dilakukan secara berkesinambungan, bertahap dan berlanjut. Tidak bisa itu terpotong-potong itu, sekarang pelajaran, besok tidak, tidak bisa seolah-olah itu. Harus dilatih terus masuk, ” tutupnya.

Mengaji:   Jenderal Marinir Ungkap Titah Rahasia SBY di Operasi TNI ke Somalia