Jualan Konten Pornografi di Grup Line, Pelakunya Berstatus Mahasiswa

VIVA   –  Kejadian bisnis pornografi live di aplikasi Line , yang kira-kira waktu lalu berhasil diungkap Polres Metro Jakarta Barat, diketahui dikelola oleh empat pelaku yang sedang berstatus mahasiswa. Tiga pelaku berhasil diamankan sementara satu orang sedang masih dalam pengejaran.

Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Barat, Komisaris Polisi Teuku Arsya mengatakan  pengungkapan bisnis pornografi berbayar yang beberapa waktu lalu diungkap oleh Polres Metro Jakarta Barat, berdasarkan penyelidikan patroli cyber .

“Mereka ini mahasiswa ya, satu arah komunikasi, satu manajemen, ” perkataan Arsya saat dikonfirmasi, Jumat, 14 Agustus 2020.

Baca Juga:   Sindikat Pornografi Anak Patok Tarif Langganan Rp300 Ribu per Bulan

Menurut Kompol Arsya, para-para tersangka ini terpikir membuat usaha pornografi ini setelah sebelumnya tahu bergabung dengan grup serupa. Itu tergiur dari bisnis ini karena bisa menghasilkan uang jutaan rupiah untuk keperluan sehar-hari tanpa main terlalu keras.

“Dia lihat peluangnya bagus, akhirnya tempat buat dan memang ternyata penuh yang respons, ” ujarnya.

Bisnis ini sudah dijalankan para mahasiswa itu sejak tahun 2019 lalu. Datang hari ini, mereka sudah mendapatkan hampir 700 pelanggan.

Lonjakan jumlah pelanggan terjadi zaman pandemi COVID-19 tatkala orang-orang diminta untuk berdiam diri di sendi. “Setiap bulan masing-masing mereka mampu dapat Rp5-8 juta, ” ujarnya.

Arsya menambahkan, sejatinya bisnis pornografi seperti ini tiba marak ditemukan di media baik.   Sementara polisi mengincar para-para mahasiswa ini karena mempekerjakan anak-anak di bawah umur sebagai pemeran video sex.

Di dalam beberapa kesempatan, para tersangka pula meminta remaja tersebut berhubungan karib secara live dengan seorang pria.

Dalam kasus ini, penjaga menangkap tiga tersangka masing-masing berinisial P, DW, RS pada 5 Agustus 2020 lalu di wilayah Kapuk Poglar, Jakarta Barat. Tengah satu tersangka lainnya, yakni BP masih dicari polisi.

Mereka terjaring setelah Polres Metro Jakarta Barat melakukan patroli siber beberapa waktu silam. Polisi menjumpai ada sebuah akun Twitter yang menawarkan netizen untuk bergabung secara grup pornografi berbayar mereka.

Untuk berlangganan, warga diminta membayar uang sekitar Rp100 ribu-Rp300 ribu, tergantung jenis layanan yang diinginkan.

Sementara istimewa untuk layanan siaran langsung kesibukan seksual aktivitas seksual anak-anak pada bawah umur, mereka meminta pelanggan membayar Rp150. 000 per menerbitkan.
 
Terhadap para tersangka, dikenakan Pasal 45 Ayat 1 juncto Pasal 27 Bagian 1 UU RI Nomor  19 Tahun 2016 tentang perubahan UU RI Nomor  11 Tahun 2008 tentang ITE, dengan ancaman azab maksimal enam tahun penjara.