Inggris Temukan Varian Baru Virus Corona, Lebih Berbahayakah?

VIVA   –  Pekan morat-marit, Inggris menjadi negara pertama yang melakukan vaksin COVID-19 yang dikembangkan oleh perusahaan farmasi Pfizer bersama BioNTech Jerman. Vaksin itu tunggal pertama kali disuntikkan kepada seorang nenek 90 tahun.

Namun di tengah program vaksinasi COVID-19 yang dilakukan pemerintah Inggris. Baru-baru ini ditemukan varian terakhir COVID-19. Menteri Kesehatan Inggris, Matt Hancock, mengatakan setidaknya 60 dominasi lokal yang berbeda di Inggris telah mencatat infeksi virus korona yang disebabkan oleh varian perdana ini.

“Saat ini kami telah mengidentifikasi lebih sebab 1. 000 kasus dengan varian ini terutama di Inggris Daksina meskipun kasus telah diidentifikasi pada hampir 60 wilayah otoritas lokal yang berbeda, ” kata tempat seperti dilansir dari laman Daily Star.

Dia membaca hingga saat ini pihaknya belum tahu penyebab virus corona mutakhir tersebut yang ditemukan di Inggris. Meski begitu, pihaknya telah berjalan cepat untuk mengatasi hal itu.

“Kami tidak cakap sejauh mana ini karena varian baru, tetapi apa pun penyebabnya, kami harus mengambil tindakan lekas dan tegas yang sayangnya mutlak penting untuk mengendalikan penyakit menjemput ini saat vaksin diluncurkan, ” kata dia.

Pada sisi lain, pemerintah Inggris serupa telah memberi tahu Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Dan saat tersebut WHO tengah memeriksa wilayah Porton Down, fasilitas penelitian militer Inggris di Wiltshire.

Varian ini pertama kali diidentifikasi setelah pengawasan rutin oleh Kesehatan Masyarakat Inggris minggu morat-marit. Virus ini diyakini mirip dengan mutasi yang ditemukan di negara lain dalam beberapa bulan belakang.

“Saya harus menekankan pada saat ini tidak ada dengan menunjukkan bahwa itu lebih cenderung menyebabkan penyakit serius. Dan masukan klinis terbaru adalah bahwa sangat tidak mungkin mutasi ini hendak gagal vaksin, ” tutur tempat.

Ditemukannya virus baru corona di Inggris ini menyusun beberapa orang   khawatir vaksin Pfizer tidak akan bekerja melawan varian baru. Mengingat bahwa orang memperoleh suntikan flu musiman untuk melawan varian baru.

“tidak ada yang menyarankan itu adalah jenis yang lebih buruk ataupun vaksin itu tidak akan berlaku lagi, ” kata Hancook.