Gaprindo Gandeng Peritel hingga Manfaatkan Medsos Cegah Perokok Anak

VIVA   –  Pabrik rokok melalui Gabungan Produsen Rokok Putih Indonesia (Gaprindo) berupaya tetap menekan jumlah perokok anak di Indonesia. Hal tersebut pun dikampanyekan secara masif sehingga angkanya bisa ditekan.

Berdasaran Buatan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Nasional, tercatat bahwa jumlah perokok bani usia 10-18 tahun di Nusantara terus meningkat dari 7, 2 persen pada 2013 menjadi 9, 1 persen atau sekitar 3, 2 juta anak pada 2018.

Selain itu, pemerintah melalui Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024 menargetkan nilai perokok anak dapat turun had 8, 7 persen pada 2024.

Pemimpin Gaprindo Muhaimin Moeftie mengungkapkan, para-para anggotanya berkomitmen membantu pemerintah buat mewujudkan target tersebut. Salah satunya dengan kampanye Cegah Perokok Bujang bertajuk ‘Aksi Kolaborasi Lindungi Budak di Bawah Umur dari Rokok’.

Baca juga:   Ahli Ritel Dunia Ramal Jeff Bezos akan Bangkrut karena Itu

“Kampanye ini didasari pada kepercayaan bahwa pencegahan perokok anak merupakan tanggung jawab sebab seluruh elemen masyarakat, ” ujar Moeftie dikutip dari keterangannya Sabtu 19 Desember 2020.

Kampanye ini dimulai pada akhir tahun dan bakal terus berlangsung sampai beberapa bulan ke depan dengan beragam penghampiran. Seperti peluncuran situs dan pengerjaan konten informasi www.cegahperokokanak.id, aksi pilot project edukasi peritel ke wilayah padat penduduk di Jakarta, serta juga kolaborasi di sosial jalan.

“Pemanfaatan platform digital pada website dan media sosial dalam kampanye ini dilakukan untuk menyesuaikan target sasaran, karena karakter tua, masyarakat, dan anak dalam bawah umur yang zaman saat ini sudah melek digital, ” ungkapnya.

Kegiatan lain dengan akan dilakukan adalah edukasi offline yang menyasar pedagang, baik tradisional dan juga ritel. Sinergi berhubungan Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (APRINDO) yang menaungi banyak peritel di Indonesia pun dilakukan.  

“Peran menyeluruh dari seluruh pihak diharapkan bisa menjadi garda terdepan untuk mendukung pencegahan tabiat merokok pada anak, ” sendat Moeftie.

Sementara itu, Ketua Umum Dewan Pimpinan Sentral (DPP) APRINDO, Roy N Mandey menjelaskan bahwa selama ini ritel modern telah menerapkan pembatasan di pembeli rokok sebagai konsumen secara menyediakan rak tertentu. Umumnya dalam belakang kasir agar dapat pelajaran latar belakang usia pembeli.

“Tentunya kasir tidak mau mengizinkan jika ada anak yang berseragam sekolah tingkat SD mematok SMA membeli produk rokok. Tercatat kalau ada anak-anak yang diminta membeli rokok oleh orang tuanya, maka tidak akan diberikan, ” ungkapnya.

Dia biar menegaskan,   upaya itu adalah semangat dari ritel modern di mencegah perokok anak. Aprindo mengangkat gerakan cegah perokok anak karena kita concern dengan generasi bujang kita yang sedang tumbuh & berkembang.  

“Kami siap berkoordinasi kepada stakeholder dalam gerakan ini dan siap melayani kampanye bersama, ” kata Roy.