Ada Istilah Baru Saat Pandemi, Konsolidasi Tenaga Manusia dan Teknologi

VIVA   –  Pandemi COVID-19 mengganggu sektor pabrik. Jika pada awalnya bisnis dan pelaku usaha bisa beroperasi dengan bebas, kini semua pergerakan harus mematuhi protokol kesehatan yang ditetapkan pemerintah.

Mulai lantaran pembatasan sosial berskala besar (PSBB), physical distancing , bekerja dari rumah ( work from home /WFH), hingga fase kehidupan baru ( new normal ). Kondisi yang penuh ketidakpastian ini tentunya sangat mempengaruhi pengambilan kesimpulan HR dalam mendorong kegiatan operasional sebuah perusahaan.

Baca: Pengguna Aplikasi Ini Mampu Dapat Penghasilan, Syaratnya Mudah

Tentunya, tim HR dan perusahaan harus sigap dan cekatan dalam mendikte strategi di fase new biasa ini. Strategi ini bertujuan buat membimbing karyawan agar tetap kaya dan bisa beradaptasi lebih elok di tengah pandemi.

Konsep bekerja remote atau jarak jauh memang terbukti cocok dan efektif untuk mengatasi ketidakpastian. Namun, tidak semua karyawan atau divisi tertentu bisa terus-menerus bekerja dari sendi. Dari situasi inilah muncul istilah baru yaitu, Hybrid Work Ideal.

“Hybrid artinya kombinasi dari dua atau lebih rancangan yang akhirnya menghasilkan turunan dengan dwifungsi. Saat kemampuan dasar buat bekerja dari rumah sudah mantap, alur kerja dan komunikasi serupa harus diperhatikan, ” kata Kepala Eksekutif GreatDay HR, Gordon Enns, Jumat, 27 November 2020.

Ia mengaku jika model kerja Hybrid menelungkupkan kemungkinan untuk meningkatkan produktivitas karyawan dengan konsep yang juga fleksibel, model kerja seperti ini lahir sebagai jawaban ketidakpastian kapan pekerja bisa kembali bekerja sepenuhnya pada kantor.

Menurut Gordon, poin paling besar dalam implementasi model kerja Hybrid, yaitu adanya keseimbangan antara bekerja dari rumah dan bekerja dari kantor secara bantuan teknologi.

Sebab karena itu, penguasaan teknologi menjadi bagian paling krusial dalam upaya adaptasi model kerja Hybrid. “Jika model kerja remote memang sepenuhnya mengandalkan teknologi, maka dalam arketipe kerja Hybrid justru bisa mengkombinasikan kompetensi tenaga manusia dengan teknologi, ” ungkap dia.

Salah satu bentuk teknologi dengan bisa mendukung efektivitas model kegiatan Hybrid adalah Human Resource Information System (HRIS). Gordon menyebut HRIS memiliki sejumlah fitur HR yang mampu membantu perusahaan meningkatkan taraf kerja dan hidup karyawan.

Mulai dari kemudahan akses meniti aplikasi seluler, teknologi berbasis cloud, dan terintegrasi dari sistem mencetak kehadiran ke sistem penggajian secara otomatis, termasuk semua komponen pajak penghasilan, hingga benefit berupa asuransi dan pinjaman.